Sabtu, 20 April 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA BALITA Ny “M” DI LINGKUNGAN KEKALIK BARAT KELURAHAN KEKALIK JAYA KECAMATAN SEKARBELA TANGGAL 11 FEBRUARI-11 MARET 2013



HALAMAN PENGESAHAN


LAPORAN

PRAKTEK KERJA LAPANGAN

DI KEKALIK BARAT KELURAHAN 

KEKALIK JAYA  KECAMATAN SEKARBELA

                                                                                                             

Disusun Oleh:


NURWAHDANIAH

                                                  NPM : 010.02.0517          



Telah Disetujui Pada Tanggal       Maret 2013



          
Kepala lingkungan                                                Pembimbing Pendidikan                               



( SABRI  ABAND )                                            ( HJ. SITI NURHAYATI, SST )                                          












KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan Individu Praktek Kerja Lapangan di Lingkungan Kekalek Barat, kelurahan kekalik jaya Kecamatan Sekarbela Wilayah pada waktunya.
Penulisaan laporan ini dalam rangka menerapkan praktek klinik asuhan kebidanan komunitas yang merupakan salah satu mata kuliah atau kurikulum yang harus dilalui dalam proses pendidikan. Dalam penyusunan laporan ini penyusun banyak mendapatkan bantuan, bimbingan serta pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penyusun ingi nmengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
  1. Bapak Drs. H. Sutiman AA selaku Ketua Stikes Mataram.
  2. Bapak dr.Komang Tresna, Sp.O.G. ketua Prodi Stikes Mataram
  3. Hj. Siti Nurhayati.SST, selaku pembimbing individu yang banyak memberikan masukan untuk kesempurnaan laporan ini.
  4. Bapak Sabri Aband, selaku kepala lingkungan Kekalik Barat
  5. Seluruh Dosen Sekolah Tinggi Kesehatan Mataram yang turut membimbing.
  6. Serta semua pihak  yang  tidak dapat disebutkan satu persatu
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu penyusun sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata penyusun mengucapkan terimakasih semoga laporan ini bermanfaat bagi penyusun khususny aserta pembaca pada umumnya. Dan semoga kebaikan semua pihak yang telah membantu penyusunan laporan ini mendapatkan imbalan yang setimpal dari Allah SWT.

Mataram,  6 Maret 2013









BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Praktek Kerja Lapangan (PKL)  merupakan salah satu  kegiatan mahasiswa yang harus dilaksanakan dimana merupakan suatu bentuk kerja nyata dalam memberikan Pelayanan Asuhan Kebidanan Komunitas.
Bidan memandang pasiennya sebagai makhluk sosial yang memiliki budaya tertentu dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, politik, sosial budaya dan lingkungan sekitarnya. Unsur-unsur  yang tercakup dalam kebidanan komunitas adalah bidan, pelayanan kebidanan, lingkungan, pengetahuan serta teknologi.
Pelayanan Komunitas yaitu dituntut untuk mengabdikan diri kepada masyarakat dibina sepanjang proses pendidikan melalui berbagai bentuk pengalaman belajar yang dilaksanakan dan dikembangkan dimasyarakat. Oleh karena itu, sasaran pelayanan kebidanan komunitas adalah individu, keluarga dan kelompok masyarakat (komuniti). Individu yang dilayani adalah bagian dari keluarga atau komunitas. Pelayanan ini mencakup upaya pencegahan penyakit, pemeliharaan dan peningkatan, penyembuhan serta pemulihan kesehatan.
Praktek Kerja lapangan ini merupakan aplikasi dari teori yang kami dapatkan dikampus terutama dibidang Kebidanan Komunitas, sehingga nantinya dapat menghasilkan tenaga Bidan yang terampil, berkompeten sesuai dengan tugas, peran dan tanggung jawab sebagai  Bidan.

Dengan diadakannya program keluarga binaan yang di lakukan oleh Mahasiswa (STIKES) Mataram diharapkan keluarga tersebut dapat memahami tentang pentingnya kesehatan dan jika di temui ada masalah kesehatan dapat segera di tanggulangi walaupun hanya di laksanakan dengan penyuluhan sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan bangsa menuju Indonesia sehat.
B.    Tujuan
1.    Tujuan umum
Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Mataram Jurusan kebidanan mampu membantu masyarakat dalam mengupayakan hidup sehat  dan mencapai derajat kesehatan yang optimal.
2.    Tujuan Khusus
a.  Dapat mengidentifikasi masalah kesehatan keluarga yang ditemukan
b.  Dapat merencanakan kebutuhan sesuai dengan masalah
c.   Dapat memberikan Asuhan Kebidanan Komunitas pada keluarga yang dibina
d.  Dapat mengevaluasi Asuhan Kebidanan Komunitas yang diberikan.

C.    Manfaat
1.    Bagi pendidikan
a.  Untuk menambah pengetahuan  dan pengalaman institusi dalam melaksanakan kegiatan asuhan kebidanan komunitas
b.  Mengetahui kemampuan mahasiswa dalam menerapkan ilmu pendidikan yang di peroleh oleh mahasiswa di bangku kuliah
c.   Mengetahui adanya kesenjangan masalah yang terjadi antara teori dengan praktek sebagai asuhan analisa dalam asuhan kebidanan komunitas
2.    Bagi penulis
Untuk lebih memahami dalam mengembangkan bidang ilmu pengetahuan asuhan kebidanan komunitas dalam konteks kesehatan ibu ada anak.
3.    Bagi masyarakat
Untuk msyarakat kekalik barat dapat mengetahui dan memahami program yang di berikan dan dapat melaksanakan program yang telah di berikan yang bertujuan untuk membentuk dan mewujudkan  masyarakat yang sehat terutama untuk ibu dan anak.

D.    Waktu dan Tempat
Waktu PKL Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Mataram Jurusan Kebidanan dari tangga 11 Februari 2013 s/d 11 Maret 2013. Adapun lokasi PKL Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Mataram Jurusan Kebidanan yaitu Kekalik Barat Kelurahan Kekalik Jaya Kecamatan Sekarbela Kota Mataram.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.     BALITA
1.    Pengertian Balita
a.    Balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun (Muaris.H, 2006).
b.    Balita adalah istilah umum bagian anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5 tahun). Saat usia batita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan kegiatan penting, seperti mandi, buang air dan makan. Menurut Sutomo dan Anggraeni. DY, (2010)
c.    Balita merupakan istilah yang berasal dari kependekan kata bawah lima tahun. Istilah ini cukup populer dalam program kesehatan.
1.    Balita merupakan kelompok usia tersendiri yang menjadi sasaran program KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) di lingkup Dinas Kesehatan.
2.    Balita merupakan masa pertumbuhan tubuh dan otak yang sangat pesat dalam pencapaian keoptimalan fungsinya.
d.    Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan masa yang berlangsung  cepat dan tidak  akan  pernah terulang, karena itu sering disebut golden age atau masa  keemasan.
2.    Karakteristik Balita
Menurut karakteristik, balita terbagi dalam dua kategori yaitu anak usia 1 – 3 tahun (batita) dan anak usia prasekolah (Uripi, 2007). Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Lajut pertumbuhan masa balita lebih besar dari masa usia pra-sekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif besar.

3.    Tumbuh Kembang Balita
Secara umum tumbuh kembang setiap anak berbeda-beda, namun prosesnya senantiasa melalui tigapola yang sama, yakni:
a.  Pertumbuhan dimulai dari tubuh bagian atas menuju bagian bawah (sefalokaudal). Pertumbuhannya dimulai dari kepala hingga keujung kaki, anak-anka berusaha menegakkan tubuhnya, lalu dilanjutkan belajar menggunakan kakinya.
b.  Perkembangan dimulai dari batang tubuh kearah luar. Contohnya adalah anak akan lebih dulu menguasai penggunaan telapak tangan untuk menggenggam, sebelum ia mampu meraih benda dengan jemarinya.
c.   Setelah dua pola di atas dikuasai, barulah anak belajar mengek splorasi keterampilan-keterampilan lain. Seperti melempar, menendang, berlaridan lain-lain.
Pertumbuhan pada bayi dan balita merupakan  gejala  kuantitatif. Pada konteks ini, berlangsung perubahan ukuran dan jumlah sel, serta jaringan intraseluler pada tubuh anak. Hal ini ditandai oleh:

a.    Meningkatnya berat badan dan tinggi badan.
b.    Bertambahnya ukuran lingkar kepala.
c.    Muncul dan  bertambahnya gigi dangen raham.
d.    Menguatnya tulang dan membesarnya otot-otot.
e.    Bertambahnya organ-organ tubuh lainnya, seperti rambut, kuku, dan sebagainya.
Perkembangan pada masa balita merupakan gejala kualitatif, artinya pada diri balita berlangsung proses peningkatan dan pematangan (maturasi) kemampuan personal dan kemampuan sosial.
a.    Kemampuan personal ditandai pendayagunaan segenap fungsi alat-alat pengindraan dan sistem organ tubuh lain yang dimilikinya. Kemampuan fungsi pengindraan meliputi ;
1.    Penglihatan, misalnya melihat, melirik, menonton, membaca dan lain-lain.
2.    Pendengaran, misalnya reaksimen dengarkan bunyi, menyimak pembicaraan dan lain-lain.
3.    Penciuman, misalnya mencium dan membause suatu.
4.    Peraba, misalnya reaksi saat menyentuh atau disentuh, meraba benda, dan lain-lain.
5.    Pengecap, misalnya menghisap ASI, mengetahui rasa makanandanminuman.
Pada system tubuh lainnya di antaranya meliputi :
1.    Tangan, misalnyamenggenggam, mengangkat, melempar, mencoret-coret,menulisdan lain-lain.
2.    Kaki, misalnyamenendang, berdiri, berjalan, berlaridan lain-lain.
3.    Gigi, misalnya menggigit, mengunyah dan lain-lain.
4.    Mulut, misalnya mengoceh, melafal, teriak, bicara,menyannyi dan lain-lain.
5.    Emosi, misalnyamenangis, senyum, tertawa, gembira, bahagia, percayadiri, empati, rasa ibadan lain-lain.
6.    Kognisi, misalnya mengenal objek, mengingat, memahami, mengerti, membandingkan dan lain-lain.
7.    Kreativitas, misalnya kemampuan imajinasi dalam membuat, merangkai, menciptakan objek dan lain-lain.

b.    Kemampuan sosial.
Kemampuansosial (sosialisasi), sebenarnya efek dari kemampuan personal yang makin meningkat. Dari satu lalu dihadapkan dengan beragam aspek lingkungan sekitar, yang membuatnya secarasa dari berinterkasi dengan lingkungan itu. Sebagai contoh pada anak yang telah berusia satu tahun dan mampu berjalan, dia akan senang jika diajak bermain dengan anak-anak lainnya, meskipun ia belum pandai dalam berbicara, ia akan merasa senang berkumpul dengan anak-anaktersebut.
Pada usia pra-sekolah anak menjadi konsumen aktif. Mereka sudah dapat memilih makanan yang disukainya. Pada usia ini anak mulai bergaul dengan lingkungannya sehingga anak mengalami beberapa perubahan dalam perilaku. Pada masa ini anak akan mencapai fase gemar memprotes sehingga mereka akan mengatakan “tidak” terhadap setiap ajakan.



Pada masa ini berat badan anak cenderung mengalami penurunan, akibat dari aktivitas yang mulai banyak dan pemilihan maupun penolakan terhadap makanan. Diperkirakan pula bahwa anak perempuan relative lebih banyak mengalami gangguan status gizi bila dibandingkan dengan anak laki-laki (BPS,2006).
B.    Gizi Pada Balita
1.    Pengertian Gizi
Gizi adalah makanan dan zat-zat yang diperlukan oleh tubuh yang berhubungan dengan kesehatan.

2.    Makanan bayi usia 0-4 bln
Pertumbuhan dan perkembangan bayi masih berlangsung sampai dewasa.Makanan yang paling sesuai untuk bayi adalah Air Susu Ibu, karena ASI memang diperuntukkan bayi-bayi yang khasiatnya sebagai makanan pokok untuk bayi.
Keunggulan  ASI disbanding dengan susu sapi adalah:
1.    ASI mengandung hampir semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi dengan konsentrasi yang sesuai dengan kebutuhan bayi.
2.    ASI mengandung kadar laktosa yang lebih tinggi, dimana laktosa ini dalam usus akan mengalami peragihan hingga membentuk asam laktat yang bermanfaat dalam usus bayi, yaitu :
-             Menghambat pertumbuhan bakteri yang pathologis
-             Merangsang pertumbuhan mikroorganik yang dapat menghasilkan berbagai asam organic dan mensintesa beberapa jenis vitamin dana usus
-             Memudahkan peyerapan protein susu
-             Memudahkan penyerapan berbagai jenis mineral.
3.    ASI mengandung berbagai zat penolak yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi.
4.    ASI lebih aman dari Kontaminasi karena diberikan langsung.
5.    Resiko alergi pada bayi kecil sekali.
6.    ASI dapat sebagai perantara untuk menjalin hubungan kasih saying antara ibu dan bayi.
7.    Suhu ASI sesuai dengan suhu tubuh bayi.
8.    ASI membantu pertumbuhan gigi lebih baik.
9.    ASI ekonomis, praktis tersedia setiap waktu.

3.    Mengatur makanan anak usia 1-5 tahun.
Dalam memenuhi kebutuhan gizi usia 1-5 thn hendaknya digunakan kebutuhan prinsip sebagai berikut:
1.      Bahan makanan sumber kalori harus dipenuhi baik  berasal dari makanan pokok, minyak dan zat lemak serta gula.
2.      Berikan sumber protein nabati dan hewani.
3.      Jangan memaksa anak makan makanan yang tidak disenangi, berikan makanan lain yang diterima anak.
4.      Berilah makanan selingan (makanan ringan) misalnya, biscuit dan semacamnya, diberikan antara waktu makan pagi, siang dan malam.
                        Makanan anak usia 1 tahun belum banyak berbeda dengan makanan waktu usia kurang dari 1 thn, sebagaimana dijelaskan bahwa anak disapih lebih baik pada umur 2 tahun sehimngga pada umum diatas 1 thn ASI masih diberikan pada anak.
                        Pada umumnya makanan masih berbentuk lemak baik nasi, sayur dan lauk pauk seperti daging hendaknya dimasak sedemikian rupa sehingga anak mudah mengunyahnya dan mudah dicerna, anak mulai diajak makan bersama-sama keluarga yaitu makan pagi, siang dan malam.
4.    Peran Makanan Bagi Balita
a.    Makanan sebagai sumber zat gizi
Didalam makanan terdapat enam jenis zat gizi, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air. Zat gizi ini diperlukan bagi balita sebagai zat tenaga, zat pembangun , dan zat pengatur.
1.    Zat tenaga
Zat gizi yang menghasilkan tenaga atau energi adalah karbohidrat , lemak, dan protein. Bagi balita, tenaga diperlukan untuk melakukan aktivitasnya serta pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh karena itu, kebutuhan zat gizi sumber tenaga balita relatif lebih besar daripada orang dewasa.
2.    Zat Pembangun
Protein sebagai zat pembangun bukan hanya untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan organ-organ tubuh balita, tetapi juga menggantikan jaringan yang aus atau rusak.
3.     Zat pengatur
a.    Zat pengatur berfungsi agar faal organ-organ dan jaringan tubuh termasuk otak dapat berjalan seperti yang diharapkan. Berikut ini zat yang berperan sebagai zat pengatur.
b.    Vitamin, baik yang larut air ( vitamin B kompleks dan vitamin C ) maupun yang larut dalam lemak ( vitamin A, D, E, dan K ).
c.    Berbagai mineral, seperti kalsium, zat besi, iodium, dan flour
d.    Air, sebagai alat pengatur vital kehidupan sel-sel tubuh.

5.    Kebutuhan Gizi Balita
Kebutuhan gizi seseorang adalah jumlah yang diperkirakan cukup untuk memelihara kesehatan pada umumnya. Secara garis besar, kebutuhan gizi ditentukan oleh usia, jenis kelamin, aktivitas, berat badan, dan tinggi badan. Antara asupan zat gizi dan pengeluarannya harus ada keseimbangan sehingga diperoleh status gizi yang baik. Status gizi balita dapat dipantau dengan menimbang anak setiap bulan dan dicocokkan dengan Kartu Menuju Sehat (KMS).
a.    Kebutuhan Energi
Kebutuhan energi bayi dan balita relatif besar dibandingkan dengan orang dewasa, sebab pada usia tersebut pertumbuhannya masih sangat pesat. Kecukupannya akan semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia.
b.    Kebutuhan zat pembangun
Secara fisiologis, balita sedang dalam masa pertumbuhan sehingga kebutuhannya relatif lebih besar daripada orang dewasa. Namun, jika dibandingkan dengan bayi yang usianya kurang dari satu tahun, kebutuhannya relatif lebih kecil.
c.    Kebutuhan zat pengatur
Kebutuhan air bayi dan balita dalam sehari berfluktuasi seiring dengan bertambahnya usia.
6.    Beberapa Hal Yang Mendorong Terjadinya Gangguan Gizi
Ada beberapa hal yang sering merupakan penyebab terjadinya gangguan gizi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai penyebab langsung gangguan gizi, khususnya gangguan gizi pada bayi dan anak usia dibawah lima tahun (balita) adalah tidak sesuainya jumlah gizi yang mereka peroleh dari makanan dengan kebutuhan tubuh mereka.
Berbagai faktor yang secara tidak langsung mendorong terjadinya gangguan gizi terutama pada anak Balita antara lain sebagai berikut:
a.    Ketidaktahuan akan hubungan makanan dan kesehatan. Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari sering terlihat keluarga yang sungguhpun berpenghasilan cukup akan tetapi makanan yang dihidangkan seadanya saja. Dengan demikian, kejadian gangguan gizi tidak hanya ditemukan pada keluarga yang berpenghasilan kurang akan tetapi juga pada keluarga yang berpenghasilan relatif baik (cukup). Keadaan ini menunjukkan bahwa ketidaktahuan akan faedah makanan bagi kesehatan tubuh mempunyai sebab buruknya mutu gizi makanan keluarga, khususnya makanan anak balita.
Menurut Dr. Soegeng Santoso, M.pd, 1999, masalah gizi Karena kurang pengetahuan dan keterampilan dibidang memasak menurunkan komsumsi anak, keragaman bahan dan keragaman jenis masakan yang mempengaruhi kejiwaan misalnya kebosanan.
b.    Prasangka buruk terhadap bahan makanan tertentu
Banyak bahan makanan yang sesungguhnya bernilai gizi tinggi tetapi tidak digunakan atau hanya digunakan secara terbatas akibat adanya prasangka yang tidak baik terhadap bahan makanan itu. Penggunaan bahan makanan itu dianggap dapae menurunkan harkat keluarga. Jenis sayuran seperti genjer, daun turi, bahkan daun ubi kayu yang kaya akan zat besi, vitamin A dan protein dibeberapa daerah masih dianggap sebagai makanan yang dapat menurunkan harkat keluarga.
c.    Adanya kebiasaan atau pantangan yang merugikan.
Berbagai kebiasaan yang bertalian dengan pantang makan makanan tertentu masih sering kita jumpai terutama di daerah pedesaan. Larangan terhadap anak untuk makan telur, ikan, ataupun daging hanya berdasarkan kebiasaan yang tidak ada datanya dan hanya diwarisi secara dogmatis turun temurun, padahal anak itu sendiri sangat memerlukan bahan makanan seperti itu guna keperluan pertumbuhan tubuhnya.
Kadang-kadang kepercayaan orang akan sesuatu makanan anak kecil membuat anak sulit mendapat cukup protein. Beberapa orang tua beranggap ikan, telur, ayam, dan jenis makanan protein lainnya memberi pengaruh buruk untuk anak kecil. Anak yang terkena diare malah dipuasakan (tidak diberi makanan). Cara pengobatan seperti ini akan memperburuk gizi anak. ( Dr. Harsono, 1999).
d.    Kesukaan yang berlebihan terhadap jenis makanan tertentu
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan tertentu atau disebut sebagai faddisme makanan akan mengakibatkan tubuh tidak memperoleh semua zat gizi yang diperlukan.



e.    Jarak kelahiran yang terlalu rapat.
Banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa banyak anak yang menderita gangguan gizi oleh karena ibunya sedang hamil lagi atau adiknya yang baru telah lahir, sehingga ibunya tidak dapat merawatnya secara baik.
Anak yang dibawah usia 2 tahun masih sangat memerlukan perawatan ibunya, baik perawatan makanan maupun perawatan kesehatan dan kasih sayang, jika dalam masa 2 tahun itu ibu sudah hamil lagi, maka bukan saja perhatian ibu terhadap anak akan menjadi berkurang.akan tetapi air susu ibu ( ASI ) yang masih sangat dibutuhkan anak akan berhenti keluar. Anak yang belum dipersiapkan secara baik untuk menerima makanan pengganti ASI, yang kadang-kadang mutu gizi makanan tersebut juga sangat rendah, dengan penghentian pemberian ASI karena produksi ASI berhenti, akan lebih cepat mendorong anak ke jurang malapetaka yang menderita gizi buruk, yang apabila tidak segera diperbaiki maka akan menyebabkan kematian. Karena alasan inilah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan keluarga, disamping memperbaiki gizi juga perlu dilakukan usaha untuk mengatur jarak kelahiran dan kehamilan.
f.     Sosial Ekonomi
Keterbatasan penghasilan keluarga turut menentukan mutu makanan yang disajikan. Tidak dapat disangkal bahwa penghasilan keluarga akan turut menentukan hidangan yang disajikan untuk keluarga sehari-hari, baik kualitas maupun jumlah makanan.


g.    Penyakit infeksi
Infeksi dapat menyebabkan anak tidak merasa lapar dan tidak mau makan. Penyakit ini juga menghabiskan sejumlah protein dan kalori yang seharusnya dipakai untuk pertumbuhan. Diare dan muntah dapat menghalangi penyerapan makanan.
Penyakit-penyakit umum yang memperburuk keadaan gizi adalah: diare, infeksi saluran pernapasan atas, tuberculosis, campak, batuk rejan, malaria kronis, cacingan. ( Dr. Harsono, 2005).
7.    Akibat Gizi yang Tidak Seimbang
a.    Kekurangan Energi dan Protein (KEP)
Berikut ini sebab-sebab kurangnya asupan energi dan protein.
1.    Makanan yang tersedia kurang mengandung energy
2.    Nafsu makan anak terganggu sehingga tidak mau makan
3.    Gangguan dalam saluran pencernaan sehingga penyerapan sari makanan dalam usus terganggu
4.    Kebutuhan yang meningkat, misalnya karena penyakit infeksi yang tidak diimbangi dengan asupan yang memadai.
Kekurangan energi dan protein mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan balita terganggu.Gangguan asupan gizi yang bersifat akut menyebabkan anak kurus kering yang disebut dengan wasting. Wasting, yaitu berat badan anak tidak sebanding dengan tinggi badannya. Jika kekurangna ini bersifat menahun ( kronik), artinya sedikit demi sedikit, tetapi dalam jangka waktu yang lama maka akan terjadi kedaan stunting. Stunting , yaitu anak menjadi pendek dan tinggi badan tidak sesuai dengan usianya walaupun secara sekilas anak tidak kurus.
Berdasarkan penampilan yang ditunjukkan, KEP akut derajat berat dapat dibedakan menjadi tiga bentuk.
1.    Marasmus
Pada kasus marasmus, anak terlihat kurus kering sehingga wajahnya seperti orang tua.Bentuk ini dikarenakan kekurangan energi yang dominan.
2.    Kwashiorkor
Anak terlihat gemuk semu akibat edema, yaitu penumpukan cairan di sela- sela sel dalam jaringan. Walaupun terlihat gemuk, tetapi otot-otot tubuhnya mengalami pengurusan ( wasting ). Edema dikarenakan kekurangan asupan protein secara akut ( mendadak ), misalnya karena penyakit infeksi padahal cadangan protein dalam tubuh sudah habis.
3.    Marasmik-kwashiorkor
Bentuk ini merupakan kombinasi antara marasmus dan kwashiorkor. Kejadian ini dikarenakan kebutuhan energi dan protein yang meningkat tidak dapat terpenuhi dari asupannya.
b.    Obesitas
Timbulnya Obesitas dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya faktor keturunan dan lingkungan. Tentu saja, faktor utama adalah asupan energi yang tidak sesuai dengan penggunaan. Menurut Aven-Hen (1992), obesitas sering ditemui pada anak-anak sebagai berikut:
1.    Anak yang setiap menangis sejak bayi diberi susu botol.
2.    Bayi yang terlalu dini diperkenalkan dengan makanan padat.
3.    Anak dari ibu yang terlalu takut anaknya kekurangan gizi.
4.    Anak yang selalu mendapat hadiah cookie atau gula-gula jika ia berbuat sesuai keinginan orangtua.
5.    Anak yang malas untuk beraktivitas fisik.

8.    Penyebab Balita Kurang Nafsu makan :
a.    Faktor penyakit organis
b.    Faktor gangguan psikologi
Anak akan kehilangan nafsu makan karena hal-hal sebagai berikut:
1.    Air Susu Ibu yang diberikan terlalu sedikit sehingga bayi menjadi frustasi dan menangis
2.    Anak terlalu dipaksa untuk menghabiskan makanan dalam jumlah/ takaran tertentu sehingga anak menjadi tertekan
3.    Makanan yang disajikan tidak sesuai dengan yang diinginkan / membosankan
4.    Susu formula yang diberikan tidak disukai anak atau ukuran / dosis yang diberikan tidak sesuai dengan sehingga susu yang diberikan tidak dihabiskan
5.    Suasana makan tidak menyenangkan/ anak tidak pernah makan bersama kedua orang tuanya.







C.   Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga
PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang melakukan 10 PHBS yaitu :
1.    Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2.    Memberi ASI ekslusif
3.    Menimbang balita setiap bulan
4.    Menggunakan air bersih
5.    Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6.    Menggunakan jamban sehat
7.    Memberantas jentik di rumah sekali seminggu
8.    Makan buah dan sayur setiap hari
9.    Melakukan aktivitas fisik setiap hari
10. Tidak merokok di dalam rumah 











BAB III
ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA BALITA Ny “ M“  
DENGAN TUMBUH KEMBANG NORMAL DI LINGKUNGAN
KEKALIK BARAT KELURAHAN KEKALIK JAYA 
KECAMATAN SEKARBELA MATARAM
TANGGAL  4 - 6 MARET 2013

KUNJUNGAN PERTAMA
Hari / Tanggal           :  Senin, 4 Maret 2013
Waktu                         : 16.00 WITA
Tempat                       : Rumah KK Binaan
A.   DATA SUBYEKTIF
1.    Identitas
Nama Balita          :   Nabila Izzatul Adha
Umur                      :   1 Tahun 3 Bulan
Anak ke                  :   III  ( Tiga)
Tanggal Lahir       : 18 November 2011
Jenis kelamin       :   Perempuan


2.    IDENTITAS KELUARGA
No
Nama
Hub KK
Umur
Sex
Pnddkn
Pekerjaan
Kead.skrng
Ket
Utama
Tambahan
1.
Abdul Wahab
Suami
 43 tahun
 
STM
Wiraswasta
-
Sehat
Hidup
2.
BQ. Masnun
Istri
40 tahun
SMA
wiraswasta
Dagang
Sehat
Hidup
3.
Fikri Hidayat
Anak
18 tahun
 
SMA
-
-
Sehat
Hidup
4
Zawwi Rafik
Anak
11 tahun
SD
-
-
Sehat
Hidup
5
Nabila Izzatul Adha
Anak
15 bulan
-
-
-
sehat
Hidup

3.  Jarak rumah dengan tempat pelayanan kesehatan
a.    Jarak rumah dengan Posyandu      : ± 200 m ditempuh dengan sepeda motor.
b.    Jarak rumah dengan Puskesmas   :  ± 1 km ditempuh dengan sepeda motor
4.    Riwayat Kehamilan dan kelahiran
a.    Prenatal
1)    Ibu mengatakan hamil pertama dengan usia kehamilan 9 bulan / aterm dan tidak pernah keguguran
2)    Ibu mengatakan ANC lebih dari 4x di PKM dan sudah mendapatkan imunisasi TT 2x ( lengkap ).
3)    Ibu mengatakan tidak pernah menderita paenyakit selama kehamilannya
4)    Obat yang pernah ibu konsumsi selama hamil yaitu obat yang diberikan oleh bidan seperti : Fe, B6, Vit C, dan Kalk
b.    Natal
Bayi lahir normal pada tanggal ditolong oleh bidan di polindes BB : 3800 gram, PB : 52 cm, LILA :  10 cm, LIKA : 32 cm, jenis kelamin Perempuan
5.    Riwayat Psikososial ( pada saat lahir )
a.       Kontak Dini       :   Ibu dan ayah sering melakukannya
b.      Pemberia ASI    :   Langsung diberikan
c.       Menyentuh        :   Ya
d.      Kontak mata      :   Ya
e.       Respon Orang tua        
Ibu, ayah beserta keluarga merasa bahagia dengan kelahiran bayinya
f.       Kebiasaan hidup ( saat pengkajian, tanggal 4 Maret 2013)
1)      Pola tidur              : Siang 5 jam dan malam 9 jam
2)      Pola kebersihan : mandi 2x / hari
3)      Pola eliminasi     : BAB 1 kali sehari, BAK 5 kali sehari
4)      Pola Nutrisi          : ASI : 0-6 bulan, MP ASI : < 6 bulan ( berupa biscuit, bubur 3x / hari.






6.    Pencapaian√ imunisasi
Uraian
Anak yang ke
I
II
III
IV
V
Umur


1 tahun 3 bulan


Sex


perempuan


Berat lahir


3800


BB sekarang


13 kg


Umur kehamilan lahir


9 bulan


Imunisasi
1. BCG
2.  HB1
3. HB II
4. HB III
5. DPT I
6. DPT II
7. DPT III
8. Polio I
9. Polio II
10. Polio III
11. Campak




Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö
Ö


Tempat imunisasi


Puskesmas


                                                                                                  
7.    Gizi Keluarga
     Pola makan serta jenis makanan yang dikonsumsi
Jenis makanan
3 x sehari
1 x sehari
2-3 x sehari
1 x seminggu
1 x sebulan
Tidak ada
Makanan pokok
·   Nasi








Ö



·   Mie






·   Umbi






·   Lain-lain






Lauk hewani
·   Ikan






Ö





·   Telur


Ö



·   Daging



Ö


Lauk nabati






·   Tahu


Ö



·   Tempe


Ö



·   Kacang2an






Sayuran
Ö





Buah



Ö


Susu
Ö






8.    Personal Hygiene
                  a.       Mandi                            : 2 kali sehari
                  b.       Sikat gigi                      : 2 kali sehari
                  c.       Ganti pakaian             : 2 kali sehari
                  d.       Cuci tangan                 : sering
                  e.       Tidur / istirahat            : siang ± 2 jam, malam ± 7 jam

B.   DATA OBYEKTIF
1.    Pemeriksaan  Umum
a.    Keadaan Umum    : Baik
b.    Berat Badan       : 13  kg
c.    Panjang Badan : 76 cm
d.    Lingkar Lengan : 16 cm
e.    Lingkar Kepala  :   46 cm

2.    Pemeriksaan fisik
a.    Kepala dan Telinga
Kepala bersih, tidak ada luka, daun telinga sejajar dengan mata
b.    Mata
Konjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterus


c.    Hidung dan mulut
Bayi bernafas melewati mulut dan hidung, mulut bersih dan gigi sudah ada yang tumbuh
d.    Leher
pembengkakan ( - ), pergerakan baik
e.    Dada
Bentuknya normal seperti tong, respirasi normal, tidak ada retraksi waktu bernafas, laju nafas 40 kali / menit, laju jantung 135 kali/ menit
f.     Bahu, lengan dan tangan
Gerakan normal, jumlah jari lengkap.
g.    Punggung dan anus
Tidak ada kelainan, lubag anus (+)
h.    Kulit
Tidak sianosis, tidak terdapat tada lahir serta tidak ada kelainan.

3.    KPSP (Kuesioner Praskrining)
a.    Gerakan Motorik Kasar
1)    Berdiri tanpa berpegangan tangan
2)    Anak dapat berjalan sendiri dan berdiri sendiri
b.  Gerakan Motorik Halus
1)    Memegang ibu jari dan jari-jari yang lain
2)    Mampu mengambil 2 kubus kecil
c.   Komunikasi Aktif
1)    Anak mampu mengoceh
2)    Anak dapat memanggil sebutan “PAPA”
3)    Anak dapat mengeluarkan beberapa kata


d.  Menolong Diri Sendiri
1)    Dapat makan sendiri
2)    Dapat minum sendiri dengan menggunakan satu tangan atau dua tangan
e.  Tingkah Laku Sosial
1)    Daag daag dengan tangan
2)    Menyatakan keinginan
3)    Tepuk tangan

2.   Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan
3.  Kesehatan lingkungan :
Kebersihan lingkungan keluarga
a.      Atapnya                                      : Terbuat dari sseng
b.      Dindingnya                                : Permanen
c.      Lantainya                                   : Keramik
d.      Keadaan penerangan rumah : Cukup
e.      Keadaan ventilasi rumah        : Baik
f.       Saluran limbah                         : Ada,  lancar
g.      Kandang ternak                                    : Tidak Ada
h.     Pembuangan sampah             : Di tampung
i.       Buang air besar                                    : Di WC tertutup
j.        Sumber air minum                    : PDAM



C.   ANALISA
1.      Diagnosa
Balita umur 15 Bulan dengan tumbuh kembang normal
Dasar :
- Bayi lahir tanggal 18 November 2011
- Umur bayi 1 tahun 3 bulan
- BB : 3800 gram, PB : 52 cm, LILA : 10 cm, LIKA : 32 cm.
a.    Riwayat perinatal           : Umur kehamialn 9 bulan / aterm
b.    Hasil KPSP (Kuesioner Praskrining)
Tidak terdapat keterlambatan baik dari Gerakan Motorik Kasar , Gerakan Motorik Halus, Komunikasi Aktif, Menolong Diri Sendiri, Tingkah Laku Sosial. Dengan kata lain pertumbuhan dan perkembangan balita normal.

2.      Masalah                     : tidak ada
3.      Kebutuhan                : Tidak ada
4.      Diagnosa Potensial : Tidak ada    
5.      Tindakan segera      : Tidak ada

D.   PENATALAKSANAAN
1.    Memberitahukan pada ibu bahwa hasil pemeriksaan yaitu :
a.       BB    : 13 kg
b.      PB     : 76 cm
c.       LILA : 16 cm
d.      LIKA : 46 cm
2.    Menjelaskan pada ibu tentang keadaan  balitanya, yaitu : berat badan, panjang badan, LILA, LIKA yaitu normal sesuai dengan masa usianya pada saat ini.
3.    Memberitahukan pada ibu bahwa akan dilakukan kunjungan kedua pada esok hari.

EVALUASI
1.    Hasil dari tes menunjukkan bahwa bayi tersebut tidak mengalami keterlambatan.
2.    Ibu mengerti tentang penjelasan hasil DDST dan ibu akan mengikuti anjuran untuk memberikan stimulasi pada balitanya dirumah.
3.    Ibu mengetahui dan setuju akan dilakukan kunjungan kedua pada esok hari.


KUNJUNGAN KEDUA
Hari / Tanggal           : Selasa, 5 Maret 2013
Waktu                         : 16.00 WITA
Tempat                       : Rumah KK Binaan
A.   SUBYEKTIF
1.    Ibu mengatakan ingin mengetahui nutrisi buat anaknya yang sesuai dengan usia pertumbuhan dan perkembangan balitanya.
B.   OBYEKTIF
1.    K/u balita baik, kesadaran komposmenis,keadaan emosi stabil
2.    BB : 13 kg, PB : 76 cm, LIKA : 46 cm, LILA : 16  cm.
C.   ANALISA
Balita umur 15 Bulan dengan tumbuh kembang normal
D.   PLANING
1.    Memberikan penyuluhan pada ibu tentang Gizi balita dengan masa pertumbuhan dan perkembangannya pada saat ini (satpel terlampir )
2.    Memberitahukan pada ibu waktu yang tepat untuk istirahat balitanya.
3.    Menjelaskan pada ibu bagaimana cara untuk personal hygiene yang sesuai dengan balita pada saat masa pertumbuhan dan perkembangannya
4.    Menganjurkan ibu untuk memantau perkembangan anaknya di rumah dengan mengamati perkembangan kemampuan balitanya
5.    Menganjurkan ibu agar selalu merangsang perkembangan balitanya sesuai pertambahan usia balitanya
6.    Menganjurkan ibu untuk terus memantau tumbuh kembang balitanya dangan rutin membawa balitanya ke posyandu / pusat pelayanan kesehatan terdekat setiap bulan
7.    Memberitahukan kepada ibu bahwa akan di lakukan kunjungan ketiga pada esok hari.







KUNJUNGAN KETIGA
Hari / Tanggal           : Rabu, 6 Maret 2013
Waktu                        : 16.00 Wita
Tempat                      : Rumah KK Binaan
A.   SUBYEKTIF
1.    Ibu mengatakan sudah mulai melakukan apa yang sudah dianjurkan kepadanya hari kemarin
2.    Ibu mengatakan masih agak kesulitan untuk  mmembujuk anaknya agar mau makan-makanan yang bergizi untuk masa pertumbuhan dan perkembangan balitanya tersebut.

B.   OBYEKTIF
1.    K/u balita baik, kesadaran composmentis,keadaan emosi stabil
2.    BB : 13 kg, PB : 76 cm, LIKA : 46  cm, LILA : 16 cm.

C.   ANALISA
Balita umur 15 bulan dengan tunbuh kembang normal.
D.   PENATALAKSANAAN
1.    Memantau kembali apakah ibu sudah mengerti apa yang sudah dijelaskan dan mau melakukan apa yang telah dianjurkan
2.    Memotifasi kembali agar ibu tetap melakukan apa yang telah dijelaskan / dianjurkan
3.    Mengingatkan pada ibu agar tetap memantau pola makan anaknya agar kebutuhan nutrisinya tidak berkurang dalam pertumbuhan dan perkembangannya pada saat ini.
4.    Mengingatkan ibu agar tetap memantau dan mengamati pertumbuhan dan perkembangan balitanya dirumah serta selalu merangsang perkembangannya sesuai dengan pertumbuhan usia balitanya dengan
5.    Ibu mengerti tentang penjelasan yang sudah diberikan dan bersedia melakukan apa yang sudah dianjurkan.
















BAB IV
PEMBAHASAN
Dari uraian Asuhan Kebidanan Komunitas yang di berikan pada balita Ny “M” di lingkungan Kekalik Barat Kelurahan Kekalik Jaya Kecamatan  Sekarbela Kota Mataram pada tanggal 4-6 Maret 2013 di temukan bahwa :
a.    Data yang telah di dapatkan dari riwayat kehamilan dan kelahiran yang lalu dengan usia kehamilannya 9 bulan dan Berat Badan Bayi pada saat itu yaitu 3800 gr dan Panjang Badan 52 dan hal ini merupakan hal yang normal. Secara teori Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram. Dep. Kes. RI, (2005)
b.    Dari hasil pemeriksaan pada balita dengan usia 15 bulan tersebut di temukan bahwa K/U balita tersebut baik, kesadaran composmentis,  pemeriksaan antropometri dengan hasil yaitu BB : 13 Kg, PB : 76 cm, LILA : 16 cm, LIKA : 46 cm dan hasil dari KPSP (Kuesioner Praskrining) pun menunjukkan hasil yang baik dengan pertumbuhan dan perkembangannya baik dan normal dengan usianya pada saat ini.
Dengan umur balita tersebut terdapat perubahan yang terjadi dalam pertumbuhannya hal ini ditandai oleh:
1)      Meningkatnya berat badan dan tinggi badan.
2)      Bertambahnya ukuran lingkar kepala.
3)      Muncul dan  bertambahnya gigi
4)      Menguatnya tulang dan membesarnya otot-otot.


c.    Dari data yang di kaji pada balita Ny “M” di dapatkan masalah yaitu kurangnya pemahaman tentang pemenuhan Gizi dengan masa pertumbuhan dan perkembangan Balita pada usia balita saat ini. Oleh karena itu, pada KK binaan yang di lakukan Pengkaji memberikan semacam penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masalah yang di hadapi oleh ibu terhadap balitanya tersebut.
d.    Asuhan Kebidanan yang telah di berikan pada balita Ny “M” tersebut ibu bersedia memeriksa dan memantau pemenuhan nutrisi beserta dengan pertumbuhan dan perkembangan balita pada saat ini.
Dari hasil pengkajian yang di lakukan pada awal kunjungan sampai akhir kunjungan telah di berikan asuhan kebidanan yang sesuai dengan teori yang berdasarkan dengan kebutuhan dan prioritas masalah yang di hadapi oleh ibu dari balita tersebut.









BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.   Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada Bab III di atas dapat diambil sebuah kesimpulan, yang merupakan rangkuman dari keseluruhan kegiatan Asuhan Kebidanan Komunitas pada Keluarga Ny “M“ dalam Praktek Kerja lapangan Mahasiswa Jurusan D-IV Kebidanan Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKES) Mataram di Lingkungan Kekali Barat, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram pada Tangaal 11 Februari- 11 Maret 2013 adalah sebagai berikut   :
1.    Mahasiswa telah mengidentifikasi masalah yang di temukan pada balita Ny “M”
2.    Mahasiswa telah  mampu merencanakan kebutuhan sesuai dengan masalah yang di hadapi oleh balita tersebut
3.    Mahasiswa telah memberikan Asuhan Kebidanan Komunitas pada keluarga yang dibina sesuai dengan kebutuhan yang di butuhkan
4.    Dari hasil evaluasi mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan








B.   Saran
Adapun saran yang dapat saya sampaikan guna keberhasilan tersusunnya laporan dan pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan kedepannya adalah sebagai berikut :
a)    Bagi Pendidikan
Di sarankan untuk lebih terus meningkatkan didikan dan bimbingannya sehingga ilmu yang diberikan dapat diterapkan oleh mahasiswa di lapangan.
b)    Bagi mahasiswa
Disarankan untuk lebih aktif belajar dan berlatih guna menambah pengetahuan dan keterampilan mengenai Praktek kerja Lapangan untuk mengaplikasikan teori yang telah di dapatkan di kampus sehingga dapat memberikan asuhan secara maksimal pada Kebidanan Komunitas.
c)      Bagi KK Binaan
Kepada keluarga yang dibina, agar apa yang telah diberikan baik dalam bentuk pelayanan maupun penyuluhan supaya dapat diterapkan untuk masa -masa  yang akan datang sehingga keluarga akan lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap kesehatan diri dan keluarga.  



DAFTAR PUSTAKA

1.    Departemen kesehatan RI.2008.Manajemen Terpadu Balita Sakit.
2.    Departemen Kesehatan RI.2009.Buku Kesehatan Ibu dan Anak.Jakarta: Departemen Kesehatan dan JICA
3. Mansur, Herawati. 2009. Psikologi Ibu dan Anak untuk Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika
4. Soetjiningsih. 2001. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC
5.  Tomkins dan Watson. 2010. Malnutrition and Infection. United Nation. Switzerland.
6. http://www.dinkes-dki.co.id/gizi.html, aksestgl 2 februari 2005.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar